Sukses! Jaga Kurs Rupiah, Pertamina Gandeng 3 Bank Ini Sepakati PIDI

Jakarta, Klikanggaran.com (7/12/2017) - Dalam upaya menjaga nilai kurs mata uang Rupiah melalui derivatif valuta asing, Pertamina bersama dengan tiga bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sepakat melakukan Perjanjian Induk Derivatif Indonesia (PIDI), yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Penandatanganan PIDI dilakukan oleh Direktur Keuangan Pertamina (Arief Budiman), Direktur Wholesale Banking Bank Mandiri (Royke Tumilaar), Direktur Treasury & International Bank Negara Indonesia (Panji Irawan), dan Direktur Kredit Mengengah, Korporasi, dan BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Kuswiyoto).

Penandatanganan PIDI ini disaksikan oleh Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Nanang Hendarsah, di Kantor Pusat Pertamina, pada Rabu (29/11/2017).

Untuk diketahui, PIDI merupakan kontrak yang menjadi dasar pelaksanaan transaksi derivatif. Kontrak tersebut menggunakan draft yang telah disusun oleh Bank Indonesia melalui lampiran surat Bank Indonesia No 18/34/DPPK.

Menurut Vice President Treasury Pertamina, Edwardi, perusahaan melihat ada peluang meningkatkan efisiensi dan efektivitas mitigasi risiko valuta asing dengan menggunakan instrumen option & call spread option.

"Inilah yang melatarbelakangi adanya kesepakatan tersebut," jelas Edwardi.

Ia menambahkan, bahwa Bank Indonesia melalui peraturan Bank Indonesia Nomor 18/18/PBI/2016 tentang Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah antara Bank dengan pihak Domestik, telah mengakomodir transaksi derivatif valuta asing terhadap rupiah berupa option & call spread option.

"Ini keuntungan bagi Pertamina, karena dengan instrumen itu kita dapat membeli mata uang Dolar AS dengan harga yang sudah kita tentukan sebelumnya," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman, menyatakan dukungannya terhadap penerapan program tersebut. Karena menurutnya, Pertamina merupakan salah satu BUMN yang melakukan transaksi keuangan dengan mata uang Dolar AS paling besar.

"Instrumen baru ini harus dijalankan karena kita dapat melakukan efisiensi. Namun, kita harus melakukan evaluasi pada triwulan berikutnya untuk memantau perkembangannya," pungkas Arief.

 

(Baca juga : Gawat, Cadangan Energi Fosil Menurun! Apa yang Dilakukan Pertamina?)

(Baca juga : Waduh, Untuk Apa Aplikasi Oke Gas ASN Pertamina?)

(Baca juga : Widih! Ada Hadiah dan Promo Trade In Tabung Kosong LPG 3 kg untuk Cilegon)

Ingin berlangganan berita klikanggaran ?