Pendapatan PGN Berpotensi Rugi Sebesar Rp 3.23 Miliar dan USD 2.48 Juta

Jakarta, Klikanggaran (24/04/2017) - Hasil audit BPK pada semester II di Perusahaan Gas Negara (PGN), terdapat banyak temuan yang dinilai belum sepenuhnya tertib dan taat pada sistem pengendalian intern dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga, mengakibatkan pengelolaan pendapatan PGN sedikit menyimpang.

Seperti halnya pada jaminan pembayaran pelanggan yang kurang diterima. PGN tidak dapat menutup tunggakan pelanggan aktif sebesar Rp 14,36 miliar dan USD 6,90 juta. Ditambah lagi piutang pelanggan in-aktif kepada PGN, berpotensi merugikan PGN karena yang tidak tertagih ada sebesar Rp 3,23 miliar dan USD 2,48 juta.

Akibat dari hal tersebut, pendapatan dan keuntungan PT PGN tidak maksimal, dan PT PGN seperti asal-asalan saja dalam berbisnis. Terlebih, dampak terburuknya adalah semakin minimnya pendapatan perusahaan plat merah tersebut. Ini adalah preseden buruk tentu saja.

Jika dibiarkan seperti itu terus, pendapatan PGN semakin minim. Dengan demikian, bisnis PGN tidak akan berkembang, dan akan kalah dengan perusahaan gas lain. Sementara itu, untuk mengembangkan bisnis, PGN malah melakukan/mencari hutang ke bank-bank. Seperti pada tanggal 28 Agustus 2014, PGN hutang sebesar US$ 650.000.000 dengan jumlah porsi Onshore dan Offshore masing-masing sebesar US$ 590.000.000, dan US$ 60.000.000 dengan bank yang bertindak sebagai Mandated Lead Arrangers and Bookrunne yang belum terlunasi.

Kalau PGN sudah berhutang, dan tidak memperbaiki manajemen pendapatan mereka, maka pihak Komisaris dan Direktur Utama seperti bukan mengembangkan Core Bisnis Gas, tapi sedang "menggadaikan" PGN agar bukan milik negara lagi.

 

Bisnis

More Articles