Tantangan KPK, Membuka Kotak Pandora Mega Korupsi e-KTP

Jakarta, Klikanggaran.com (30/11/2017) - Terkait kasus mega korupsi e-KTP yang kini mulai kembali bergeliat, Koordinor Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman, memberikan tanggapannya kepada tim Klikanggaran.com di kantornya, Kamis (30/11/2017).

Jajang menuturkan, selama tiga tahun, yakni tahun anggaran 2011, 2012, ditambah 2013, mega proyek e-KTP menjadi bancakan perampok duit rakyat. Kini setelah terkuak, Jajang mebgatakan bahwa yang tersisa saat ini tinggal bangkai serta aroma busuknya yang menyengat.

“Ini merupakan catatan kelam dan memalukan, para elite mulai dari eksekutif, legislatif, bersama swasta bergotong-royong dalam korupsi,” katanya.

Sejak dibukanya penyelidikan oleh KPK mulai 26 Juli 2013, Jajang menyesalkan kenyataan bahwa sudah hampir lima tahun kasus korupsi e-KTP ini belum juga beres. Padahal, sedikitnya sudah ada 289 saksi yang diperiksa KPK.

“Angka ini pun masih terus bertambah. Dan, tercatat 73 nama yang berulangkali disebut dalam sidang tipikor, sebagian adalah nama-nama beken dan masih terhormat,” cetusnya.

Tapi, hanya 6 orang saja yang baru berhasil diciduk KPK, termasuk Setya Novanto. Bahkan, khusus untuk menangani Setnov, menurut Jajang KPK terlihat keteteran dan menghabiskan banyak energi. Setelah melalui banyak drama, akhirnya kini Setnov kembali duduk di kursi pesakitan.

“Kita berharap, dengan ditetapkannya Setnov sebagai tersangka, adalah sebagai jalan untuk membuka kotak Pandora. Para perampok duit rakyat yang selama hampir tujuh tahun masih duduk dan tidur nyaman, terbongkar aibnya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hokum,” tutup Jajang.

 

Ingin berlangganan berita klikanggaran ?

Korupsi

More Articles

Medsos Klikanggaran