Kasus Setya Novanto dan Politik Malingering

Klikanggaran.com (18/11/2017) – “Kok, ya pas, to yo... Sebuah kebetulan yang betul. Istilahnya malingering, konteksnya KPK tengah mengejar terduga maling. Ada yang bilang, malingering sebagai "sakitnya" para maling.” Demikian disampaikan oleh Brigjen TNI (Purn) Drs. Aziz Ahmadi, M.Sc., di tengah bergulirnya kabar terbaru terkait kasus Setya Novanto, pada Klikanggaran.com di Jakarta, Jumat (17/11/2017).

Aziz Ahmadi menjelaskan, dalam konteks Indonesia, malingering sudah menjadi langganan. Bahkan ada musimnya, yang boleh disebut musim politik malingering. Maksudnya, telah lama berlangsung dan dilakukan, atau telah lama terjadi rekayasa, bahkan politisasi terhadap malingering, oleh para maling. Utamanya maling politik, yakni yang bersentuhan dengan kalangan elite politik dan politisi. 

Demikian penuturan Aziz Ahmadi selengkapnya :

Duh... malingering, dikau dieksploitasi sedemikian rupa. Dideres atau disadap dan dikuras tuah atau wibawanya, untuk menghindar dari sesuatu. Apakah sesuatu itu? Tentu, sesuatu - yang dengan segala daya, upaya, dan doa - hendak dihindarinya.

Dalam konteks now bin gres, malingering telah diperagakan secara amat fasih, tapi sayang tidak sempurna. Aktornya tiada lain Setya Novanto (SN/Setnov), Ketua Umum Partai Golkar (PG), partai politik besar, kuat, dan berpengaruh. Partai Politik adidaya tunggal, sepanjang sejarah Orde Baru (Orba), selama lebih 30 tahun. Juga sebagai Ketua DPR RI, sebuah lembaga tinggi negara, pilar sekaligus cermin demokrasi, dengan level yang amat terhormat dan mestinya juga amat berwibawa dan disegani.

Apakah Malingering?

Malingering berasal dari kata malingrer. Istilah ini (malingrer), tampaknya muncul dari idiom Perancis akhir abad 18. "Malingrer" berarti pura-pura menderita atau pura-pura sakit.

Malingering, tidak dipertimbangkan sebagai penyakit mental. Pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), malingering, diberi kode V sebagai kondisi yang mungkin menjadi fokus perhatian klinis.

DSM-V mendiskripsikan malingering sebagai perekayasaan masalah fisik atau psikologikal, dengan sengaja yang palsu atau sangat dilebih-lebihkan dari yang sebenarnya.

Malingering atau pura-pura sakit/menderita itu, juga didefinisikan sebagai perekayasaan berencana atas gejala-gejala gangguan fisik dan psikologis, yang didorong oleh insentif eksternal.

Rekayasa berencana itu dapat dilakukan dengan cara : (1) Memfabrikasi suatu penyakit yang sesungguhnya penyakit itu tidak ada ; (2) Membesar-besarkan kadar keparahan penyakit, lebih dari keadaan yang sebenarnya. Adapun insentif eksternal yang didambakan bisa berupa : kompensasi finansial, uluran simpati, bebas dari tuntutan kriminal, terhindar dari pekerjaan, kelonggaran hukum, dan lain-lain.

Di samping keluhan fisik, mereka (para malingrer ini), biasanya mengelak dengan tidak kooperatif selama pemeriksaan dan pengobatan, serta menghindari prosedur medis. Ingat, kepura-puraan dimaksud memiliki tujuan akhir menghindar dari beban pekerjaan, tuntutan/prosedur hukum, dan lain-lain.

Malingering, juga diartikan sebagai membuat kepura-puraan gejala fisik secara sengaja dan dilebih-lebihkan karena dorongan eksternal yang terjadi. Dikatakan juga, mereka yang mengalami/melakukan malingering, akan menghentikan kepura-puraannya, segera setelah tujuannya tercapai, atau ketika mereka telah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Antara AT dengan SN

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini apalagi kejahatan, yang sempurna. Bagi yang mengaku, saya Pancasilais, tentu sependapat jika kesempurnaan milik Tuhan semata. Tentu termasuk malinger kali ini.

Absurd bingiiiit. Masak sih, tiang nabrak listrik. Malinger kali ini - yang diperagakan Novanto - memang berlebihan/kelewatan. Akibatnya, insentif eksternal yang diharapkan dari lakon malingernya - berupa simpati atau pengertian, dan bebas dari tuntutan hukum, gagal total. Justru sebaliknya, menuai panen raya berupa antipati, sinisme, dan kebencian. Di balik semua itu, publik justru memanen atau memperoleh keyakinan sendiri, Novanto memang sedang berupaya lari dan menghindar dari apa yang tengah disangkakan kepada dirinya.

Karena ulah Novanto itu, hari-hari ini beringin diterpa angin puting beliung yang mematikan. PG menghadapi ujian maha berat dan terpaan musibah nan dahsyat, untuk kali kedua.

Masih segar dalam ingatan di masa awal reformasi, akhir tahun '90-an hingga awal tahun 2000-an. Golkar (bersama TNI) dihujat habis-habisan dan menghadapi tuntutan harus dibubarkan, karena peranannya sebagai tiang utama (bukan tiang listrik), penyangga Orde Baru.

Bersyukur, saat itu Golkar - yang segera mendeklarasikan diri sebagai Partai Golksr (PG) - dikomandani oleh seorang Akbar Tanjung (AT). Figur yang diakui ketokohannya dan kuat leadershipnya. Seorang politikus sejati yang kenyang dengan pengalaman organisasi dan asam-garamnya perjuangan. Tokoh yang memiliki kapasitas yang dibutuhkan serta gezah dan wibawa sedemikian rupa, yang dibutuhkan saat PG porak-poranda.

Di bawah guyuran caci-maki itu, PG bukan hanya tetap bisa eksis, melainkan justru tampil mengesankan, penuh percaya diri dengan identitas budaya politik dan warna sendiri. AT adalah orang yang tepat, hadir pada saat yang tepat. AT (bersama yang lain), boleh dibilang sebagai pahlawan Golkar yang berhasil melakukan konsolidasi partai, seraya terus melangkah ke hadapan dengan solid dan mantap. Hasilnya, PG keluar sebagai pemenang Pemilu 2004, walau gagal mengantarkan calonnya menjadi Presiden.

Identitas, budaya, dan warna politik PG itu makin pudar, seiring makin surutnya peran politik AT. Musibah yang menerpa saat ini, kemudian stand up comedy yang sama sekali tidak lucu dari SN dalam menghadapinya, adalah puncak dari kegagalan PG dalam menjaga identitas, budaya, dan warna politiknya.

Sesungguhnya, SN dinilai tidak tepat, tidak cakap, dan tidak cukup kapasitas sebagai nakoda partai sebesar PG ini. Namun, dia mesti dipantas-pantaskan, agar PG bisa masuk perangkap dan mudah dikendalikan. Dengan demikian, PG tidak menari dengan gubahannya sendiri, melainkan sekedar pemain latar yang mengikuti kendang parpol lain. Akhirnya, kenyataan itu tiba juga. Teryata, Novanto memang hanya cakap ber-malingering.

Mengukur Masa Depan PG

Suka atau tidak, kini nasi bukan hanya kebacut menjadi bubur. Tapi, sudah menjadi intip/kerak, menuju gosong.

Tingkah polah Novanto nyata-nyata telah mencoreng sekaligus membikin PG terjerembab kembali. Tersungkur, lalu duduk termenung di dasar jurang, sambil memandangi luka yang begitu dalam.

Tentunya, kini segalanya terpulang kembali kepada stake holder dan pengurus PG sendiri. Melanjutkan lari dari kenyataan, atau bangun tersentak melakukan konsolidasi, guna meraih kembali identitas atau jati diri, sesuai budaya dan warna PG, sebagai partai perjuangan, pengabdi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Halo, PG...?

Apa kabar, Tuan?

Anda berpengalaman jatuh dan bangun, bersama sejarah bangsa.

Anda dipercaya memiliki endurence politic yang hebat dan tinggi, dalam mengikuti dan dikerjain dinamika politik yang terjadi.

Anda juga memiliki mekanisme internal penyelesaian masalah/konflik yang sudah teruji dan mumpuni. 

Buktikan itu, sekarang ...

Pastikan jalan pilihanmu, juga sekarang. Inilah momentum, untuk tidak lagi mengulangi kekeliruan sejarahmu.

Pastikan, proses Pilkada serentak dan Pemilu 2019, sebagai tantangan sekaligus tolok ukurnya. Mampukah Anda siuman dan bangkit kembali? Atau, sebaliknya, tetap terpuruk dan tak tahu kapan bisa bangkit lagi ...

 

Ingin berlangganan berita klikanggaran ?

Opini

More Articles