Mun'im: Pesantren Siwalan Panji, Salah Satu Destinasi Napak Tilas Sejarah NU

Jakarta, Klikberita.co.id --- "Gus, kalau mau ngopi Lampung nanti malam datang ke rumah." Saya tahu kalau yang SMS itu Mas Mun'im. Orang yang kerjanya mengkader warga NU untuk menjadi NU yang sesungguhnya. Dalam 2 tahun terkahir, hampir susah saya bertemu beliau. Karena memang hari-harinya dipenuhi undangan untuk menjadi mentor PKPNU dari mulai Cabang, MWC NU, sampai dengan pondok pesantren di berbagai wilayah di Indonesia. Dan, di samping karena --utamanya-- senior, tetangga, ada kalimat "kalau mau kopi" pula, maka sejenak saya balas SMS singkat, "Baik, Mas."

Selepas Isya lebih sedikit, saya datang. Sekitar 2 menit "prosesi ngunduh tamu" berlangsung dan diterima, tapi belum bawa kopinya. Habis itu, tentunya dipersilahkan duduk (masak berdiri hehehe,..). Ringkasnya, obrolan basa-basi awal sampai dengan serius tentang kehidupan terbincangkan di situ.

Di tengah obrolan itu, ada yang menarik.

Ya, pas di seputar cerita bahwa tahun 1787, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari, sebelum "ngangsu kaweruh" ke Makkah, beliau nyantri di Pesantren Hamdaniyah Siwalan Panji, di daerah Sidoarjo, Jawa Timur, yang kala itu diasuh Kyai Ya'qub. Mun'im menuturkan bahwa tidak hanya Kyai Hasyim yang nyantri di situ. Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai As'ad Syamsul Arifin pun pernah nyantri di situ. Bahkan, beliau dijadikan menantu dan diberi beasiswa oleh Kyai Ya'qub.

"Bukan hanya nyantri dengan Kyai Ya'qub aja, Mbah Hasyim pun diberi beasiswa untuk belajar ke Makkah oleh Kyai Ya'qub. Kyai Wahab Hasbullah pun pernah nyantri di situ, hanya waktu Kyai Wahab nyantri, pengasuh pesantrennya bukan lagi Kyai Ya'qub," tuturnya.

Bukannya ngantuk, justru saya makin tertarik untuk menyimak kelanjutan ceritanya, sambil sesekali menikmati hidangan kue putu. Sejenis penganan nusantara yang sistem penjajakannya pakai gerobak yang bunyi "nguuung" dari batang bambu tempat sirkulasinya uap. Saya sendiri waktu kecil termasuk yang memainkan bunyian itu, dengan siasat beli kue putu.

Nah. Ternyata seperti dikutip NU Online, pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Asy'Ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain.

Obrolan sampai di penghujung, dengan cerita bahwa sampai sekarang bilik (kamar) Mbah Hasyim, kalau di daerah Banten menyebutnya tobong, masih dilestarikan. Dalam artian, tidak berubah arsitektur bangunannya. Kalau toh ada perubahan, paling di beberapa bagian bangunan yang rentan rusak karena cuaca.

"Sampai sekarang kamar Mbah Hasyim dilestarikan. Tidak banyak berubah. Ini untuk mempertahankan nilai dan arsitektur sejarah, khususnya buat warga NU. Kemarin bedah buku Fragmen NU di sana, yang di antaranya memuat sejarah itu," tutupnya.

Walhasil, "pungkasan cerita di atas" mengansung ibrah penting, bahwa napak tilas sejarah NU harus diiringi dengan pelestarian tempat sejarah NU itu sendiri, termasuk Pesantren Siwalan Panji. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Suwun kopi dan rokoknya, Mas Mun'im. Barakallah.

 

Our Expression

More Articles