HUT Pertamina ke 60, Ini Pesan eSPeKaPe

Jakarta, Klikanggaran.com (8/12/2017) - Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-60 Pertamina pada 10 Desember 2017, Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe) dari markasnya di bilangan Jatinegara Timur, menyampaikan rilisnya kepada pers (7/12/2017), yang meminta pada perusahaan minyak dan gas bumi (migas) plat merah ini agar cerdas dan berintegritas.

Ketua Umum eSPeKaPe, Binsar Effendi Hutabarat, menyatakan, kendati tema HUT ke-60 Pertamina mengangkat energi untuk inovasi berkelanjutan yang menghadirkan penciptaan nilai keuntungan dari efisiensi berdasarkan metode Continous Improvement Program, agar budaya kerja inovatif didorong ke dalam pilar Standard Management, Knowledge Management, dan Quality Management Assessment, tidaklah cukup jika tidak berintegrits.

“Itu sebabnya kami, eSPeKaPe, minta Pertamina harus cerdas dan berintegritas, sebab dari penelusuran sejarah migas, perlu diketahui jika sampai dengan pra-kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh kegiatan operasi migas di Indonesia ternyata masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa migas merupakan sumber daya alam (SDA) yang sangat strategis, khususnya sebagai bahan baku energi utama yang sangat dibutuhkan pada waktu itu, bahkan sampai saat ini dan di waktu-waktu mendatang,” tutur Binsar Effendi.

Menurut Binsar Effendi yang Ketua Dewan Penasehat Markas Besar Laskar Merah Putih (Mabes LMP), sejarah perminyakan di Indonesia diawali dengan pemberlakuan sistem Konsensi yang dalam perkembangannya kemudian digantikan dengan pemberlakuan Kontrak Karya (KK). Namun, KK belum sepenuhnya mampu menampung aspirasi dan spirit bangsa Indonesia dalam mengelola kekayaan alam migas seperti yang terkandung dalam amanat Pasal 33 UUD 1945 ayat 2 dan 3.

Adalah Ibnu Sutowo, yang menangkap aspirasi para pejuang minyak dan menghasilkan gagasan baru, yaitu cara mengelola migas dengan sistem Product Sharing Contract (PSC). Sistem ini dianggap sebagai penyempurnaan dari sistem KK. Sebagai embrio penerapan PSC, diawali dengan dilaksanakan pada saat PN Permina melakukan kerja sama kegiatan hulu dengan kontraktor Asamera pada 1961 di wilayah Aceh Timur.

Sebagai gagasan cemerlang Ibnu Sutowo dan yang pada 9 Januari 1967 secara resmi Presiden Suharto menyatakan dukungannya, karena pemerintah Indonesia merasa pertamina sukses menerapkan sistem PSC.

“Pada realitanya dikemudian banyak negara lain yang meniru sistem PSC tersebut. Studi yang dilakukan Bindeman menyebutkan, bahwa sejak 1966 sampai dengan 1998 telah ditandatangani sebanyak 268 PSC di berbagai penjuru dunia atau di 75 negara,” ungkap Binsar Effendi yang juga Ketua Umum Komunias Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB 66).

Sekarang ini menurut Ketua Umum eSPeKaPe, biaya operasional PT Pertamina (Persero) diprediksi membengkak Rp 3 triliun, jika 150 lembaga penyalur resmi Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga telah beroperasi. Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik, mengatakan, Pertamina menanggung biaya ‎penyaluran dalam pelaksanaan program BBM satu harga tahun 2017 dan ada 48 titik lembaga penyalur BBM satu harga yang dipasok dari Pertamina, biaya yang ditanggung perusahaan mencapai Rp 280 miliar. Penugasan pemerintah soal BBM Satu Harga sebenarnya bukan sebagai penyebab hilangnya pendapatan Pertamina.

"Kalau begitu, nanti kebijakan BBM Satu Harga akan selalu menjadi kambing hitam, manakala pendapatan Pertamina mengalami penurunan," ungkap dia.

Menurut Binsar Effendi, pada masa lalu, peningkatan laba Pertamina juga bukan dikontribusi dari kenaikan harga Premium, melainkan efisiensi yang dilakukan oleh manajemen di dalamnya. Oleh sebab itu, Pertamina saat ini juga perlu melakukan efisiensi di internal perusahaan. Sehingga tema HUT Ke-60 Pertamina energi untuk inovasi berkelanjutan harus benar-benar efisien dan efektif.

"Peningkatan laba Pertamina itu bukan berasal dari peningkatan pendapatan penjualan, tetapi lebih dipicu oleh efisiensi besar-besaran‎. Di zaman kami masih aktif, tidak pernah mengeluhkan untuk memenuhi BBM di dalam negeri dengan harga jual yang sama di seantero tanah-air, toh dari pendapatannya Pertamina saat itu mampu berkontribusi terhadap negara dengan membangun puluhan ribu Puskesmas, ribuan SD Inpres dan ribuan Pasar Inpres. Ini yang dimaksud eSPeKaPe agar Pertamina berintegritas yang tetap patuh atau tunduk terhadap amanat Pasal 33 ayat 2 dan 3 UUD 1945," tandasnya.

 

Ingin berlangganan berita klikanggaran ?

Peristiwa

More Articles
Burn Hoax adalah cara kami memerangi hoax-hoax yang tersebar dan berserakan di mana-mana, yang telah mengancam sendi-sendi berbangsa dan bernegara