Peristiwa

Ada Pajak di Les Private dan Bimbel

DI Indonesia, bulan April dan bulan Mei adalah bulan-bulan penting bagi anak sekolah pada kelas 6, 9, dan 12. Pada bulan-bulan itu dilangsungkan ujian nasional (UN) dan ujian sekolah (US) yang masih dinilai sebagai tolok ukur keberhasilan atau prestasi mereka selama bersekolah. Meskipun sekarang UN bukan merupakan satu-satunya penentu kelulusan murid, tetapi kekhawatiran orang tua akan nilai UN anaknya menyebabkan mereka berupaya jauh-jauh hari, bahkan sejak awal tahun pelajaran, mencari tambahan belajar bagi anaknya. Kekahwatiran itu dilandasi oleh kebijakan nilai UN yang dipakai untuk menentukan diterima atau tidaknya muridnya tersebut di jenjang sekolah lebih atasnya. Tentu saja, semua orang tua mengharapkan anaknya dapat diterima di sekolah terbaik atau perguruan tinggi negeri (PTN) favorit.

Sebetulnya, orang tua mempersiapkan anaknya bukan saja untuk menghadapi UN, tetapi juga menghadapi berbagai jenis tes yang diselenggarakan baik oleh guru maupun oleh sekolah. Orang tua akan bangga jika nilai anaknya bagus-bagus dan mendapat peringkat di kelasnya. Padahal, peringkat sudah tidak dicantumkan di rapor pendidikan, tetapi selalu saja orang tua akan menanyakan hal itu kepada guru saat pembagian rapor.  Tampaknya, orang tua beranggapan bahwa sekolah adalah tempat berkompetisi dan sang anak mesti jadi pemenang  mengalahkan yang lainnya.

Pola pikir bahwa sang anak harus menjadi pemenang dan bisa masuk ke sekolah atau universitas favorit mendorong  orang tua memberi tambahan belajar kepada anaknya lewat les private dan bimbingan belajar (bimbel). Les private dan bimbel dalam dunia akademik dikenal sebagai private tutoring atau shadow education. Namun, keduanya merupakan dua entitas yang berbeda. Les private seringnya diselenggarakan oleh seseorang, biasanya guru atau mahasiswa, sedangkan bimbel berupa lembaga yang berbadan hukum, seperti yayasan atau perseroan terbatas. Akan tetapi, keduanya sama-sama memberikan pelajaran tambahan di luar jam belajar sekolah. Selain itu, les private dan bimbel bisa dibedakan dari jumlah pesertanya. Pesertales private bisanya hanya satu orang atau kelompok kecil saja, sedangkan pada bimbel, pesertanya selalu dikelompokkan dalam kelas-kelas. Perbedaan yang lainnya lagi adalah tempat belajar. Tempat belajar les private adalah di rumah peserta sehingga tutor yang harus datang ke rumah peserta tersebut. Sebaliknya, bimbel menyediakan tempat belajar berupa ruang kelas dan peserta yang mendatangi tempat belajar tersebut.

Jika kita meninjau  sisi penyelengaraannya, bimbel yang baik akan mengurus berbagai izin persyaratan agar bimbel tersebut dapat beroperasional. Bimbel sebagai sebuah bentuk usaha harus berbadan hukum, baik sebagai Yayasan atau PT. Sebab itu, sesuai dengan peraturan yang berlaku, bimbel juga harus menyetorkan dan melaporkan pajak-pajak yang menjadi kewajibannya. Tutor atau pengajar bimbel akan dipotong penghasilkan untuk pajak  yang berlaku.

Hal itu berbeda dengan penyelenggara les private secara pribadi yang tidak berada di bawah sebuah lembaga resmi. Biasanya, mereka adalah guru-guru sekolah atau mahasiswa yang mencari penghasilan tambahan. Tetapi, ada juga orang tertentu yang menjadikan less private sebagai “profesi”. Tutor les private yang  mendapat bayaran tinggi secara umum banyak yang tidak membayar pajak. Mereka beralasan bahwa mereka bukan badan usaha yang mesti dikenai pajak, dan mereka juga menganggap pekerjaan mereka itu bukan profesi, seperti halnya dokter atau pengacara, sehingga mereka merasa tidak berkewajiban membayar pajak. Padahal, penghasilan mereka sebagai tutor less private bisa mencapat belasan hingga puluhan juta. Sangat disayangkan jika mereka tidak membayar pajak. Namun, untuk menarik pajak dari mereka pun bukan tanpa kesulitan. Mereka beroperasi tanpa tercatat di dinas atau instansi terkait. Kegiatan mereka tidak memerlukan izin dari instansi berwenang. Selain itu, tentu saja belum tumbuhnya kesadaran bahwa membayar pajak adalah kewajiban warga negara agar pembangunan terus berlanjut dan bisa dinikmati semua orang.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
%d blogger menyukai ini: