Peristiwa

Cyberbullying, Stop!

Istillah bullying dalam bahasa Inggris bermakna “masalah yang secara umum terjadi di sekolah di mana beberapa murid menggunakan kekuatan mereka atau posisi penting mereka untuk menyakiti atau menyerang anak-anak yang lebih kecil atau lebih lemah”.  Biasanya, bullying terjadi di lingkungan sekolah, seperti di halaman sekolah, lapangan olahraga, kamar kecil, atau kantin. Akan tetapi, kemajuan teknologi informasi mengubah tempat bullying tradisional tadi ke dunia maya atau cyber. Sebab itu, istilahnya pun berubah menjadi cyberbullying.

Sebagaimana dilaporkan oleh Compact Research (2012), banyak ahli yang menilai cyberbullying lebih buruk daripada bullying tradisional. Alasannya adalah pelaku cyberbullying itu anonim (tidak diketahui siapa yang melakukannya), ketidakmampuan korban untuk lepas dari bullying tersebut, dan dapat mencapai audience dalam ukuran yang lebih besar.

Pelaku cyberbullying melecehkan korbannya melalui text message yang merendahkan, mengolok-ngolok korbannya dengan memalsukan akunnya dan mengisi halaman akun palsu itu dengan postingan yang tidak sesuai dengan keadaan si korban, memposting hal-hal yang ditujukan untuk merusak reputasi korbannya.

Survei menunjukkan seperlima anak-anak dan remaja di antara usia 10-18 tahun pernah menjadi pelaku dan korban bullying. Anak-anak muda yang ditanya tentang cyberbullying menjawab bahwa itu adalah masalah serius, mereka sekitar 75% anak muda yang berpartisipasi dalam survei tahun 2011 oleh MTV dan Assosiated Press. Survei itu juga mengungkapkan, sebanyak 56% partisipan survei pernah mengalami cyberbullying. Angka itu menunjukkan peningkatan sebanyak 6% dari tahun 2009.

Anak-anak yang menjadi korban cyberbullying biasanya menunjukkan perubahan personalitasnya dengan tidak mau berbicara dengan orang lain, “baper”, tidak mau sekolah, dan menjadi lebih pemarah setelah mengecek text message atau setelah on line di internet atau media sosial.

Korban cyberbullying lebih mudah untuk depresi, kepuasan diri yang rendah, ada kemungkinan munculnya pikiran untuk melakukan bunuh diri. Sebab cyberbullying telah menyebar luas dan menjangkau remaja sehingga sangat sulit untuk dihentikan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah cara yang efektif, seperti peer to peer program dan presentasi di sekolah oleh orang yang kehilangan keluarganya, sahabatnya, temannya sebab cyberbullying.

[KIP/]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
%d blogger menyukai ini: