Peristiwa

Negeri-Negeri yang Mengenal Private Supplementary Tutoring

Model tambahan pelajaran, secara internasional sering disebut private suppplementary tutoring atau shadow education, dilaporkan  secara historis telah lama dikenal negara-negara di Asia Timu, seperti Jepang dan Korea (Bray and Lykins, 2012). Di Jepang, private supplementary tutoring disebut juku, sedangkan di Korea disebut hagwons. Akan tetapi, laporan riset yang disampaikan kepada ADB pada tahun 2012 itu menunjukkan,  pada akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-21, penyebaran model tutoring seperti itu meluas meliputi Mongolia di wilayah utara, Indonesia di wilayah selatan, Georgia di wilayah barat, dan Jepang di wilayah timur. Beberapa negara (seperti Jepang dan Korea Selatan) adalah negara-negara kaya, sementara yang lain (seperti Bangladesh dan Tajikistan) merupakan negara-negara miskin. Lalu, beberapa negara (seperti Republik Rakyat Tiongkok dan India) memiliki penduduk dengan jumlah yang sangat besar, sedangkan beberapa negara yang lain (seperti Brunei dan Maladewa) merupakan negara dengan jumlah penduduk cukup sedikit.

Apa yang mendorong private supplementary tutoring tumbuh dan berkembang di negara-negara yang disebut di atas? Dorongan utamanya adalah kesadaran pada orang bahwa investasi di pendidikan (memberikan pelajaran tambahan di jam sekolah) dapat membantu anak-anak menyelesaikan soal-soal yang diujikan dengan baik dan benar sehingga si anak bisa diterima di sekolah lanjutan dan universitas yang berkualitas.  Sedikit orang tua yang telah membaca literatur empiris tentang rata-rata mereka yang berhasil dalam pendidikan, bahkan banyak di antara mereka yang memiliki kesan kuat bahwa seseorang yang lebih lama dalam sistem pendidikan dan menerima pendidikan yang memiliki kualitas lebih baik adalah mereka yang memiliki kesempatan besar untuk memperoleh penghasilan sepanjang hidupnya dan memdapatkan standar hidup yang lebih baik. Banyak keluarga yang mengatahui bahwa anak yang kurang mendapatkan pendidikan yang baik dan tidak cakap dalam menjawab soal ujian akan kesulitan mendapatkan pekerjaan serta memiliki standar hidup yang rendah.

Perlu juga dicatat bahwa sistem kelanjutan pendidikan yang berlaku di setiap negara berbeda. Akibatnya, kebutuhan akan private supplementary tutoring berbeda-beda bergantung pada level atau jenjang transisi yang dianggap akan mempengaruhi masa depan sang anak. Konon, di Singapura persaingan sangat ketat untuk memasuki sekolah menengah (secondary school) yang akan mempengaruhi karier sang anak di masa depan maka orang tua lebih berinvestasi memberikan tambahan belajar pada saat sang anak duduk di sekolah dasar. Sebaliknya, ada negara dalam sistem pendidikannya, persaingan ketat terjadi untuk memasuki perguruan tinggi sehingga tekanan besar mengena kepada murid-murid yang berada di akhir sekolah menengah. Dalam sistem seperti itu, kursi di perguruan tinggi yang tersedia cukup sedikit dan gerbang masuknya sangat sempit.

Di Jepang, menurunnya angka rata-rata kelahiran telah membuat pendidikan tinggi terbuka aksesnya bagi semua siswa menengah yang ingin melanjutkan pendidikannya. Namun, proporsi siswa menengah yang ikut juku  meningkat dari 44% pada tahun 1985 menjadi 53% pada tahun 2007. Dan, di Taipei, Tiongkok, universitas dan akademi berkembang dari 105 pada tahun 1999 menjadi 162 pada tahun 2008, tetapi jumlah yang terdaftar di wen-li buxiban (sekolah kursus sains dan sastra) berkembang dari 1.844 menjadi 9.344.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tampaknya, kita memerlukan riset yang lebih mendalam di Indonesia tentang private supplementari tutoring atau yang biasanya disebut les private atau bimbingan belajar (bimbel).

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
%d blogger menyukai ini: